sains tentang aliran (flow state) dalam aktivitas kreatif yang lambat
Pernahkah kita menyadari sebuah keanehan dalam cara kita memandang waktu? Menunggu lampu merah selama enam puluh detik sering kali terasa seperti siksaan tanpa akhir. Kita mengetuk-ngetuk setir mobil, menghela napas panjang, dan merasa hidup kita sedang disia-siakan. Namun, di hari libur, kita bisa menghabiskan waktu tiga jam berturut-turut untuk merajut, melukis, merakit gundam, atau merawat tanaman, dan tiba-tiba hari sudah sore. Waktu tidak hanya berjalan, ia menguap begitu saja.
Kita hidup di era di mana segala hal dituntut serba cepat. Kita memuja efisiensi. Kita punya aplikasi untuk memesan makanan dalam lima belas menit dan platform untuk menonton ringkasan film dalam tiga menit. Namun, di tengah hiruk-pikuk pemujaan terhadap kecepatan ini, ada sebagian dari diri kita yang diam-diam mendambakan aktivitas lambat yang rumit.
Mengapa kita secara sukarela memilih jalan yang lebih lambat dan sulit, padahal otak kita secara evolusioner dirancang untuk menghemat energi? Jawabannya ternyata bersembunyi di balik salah satu mekanisme paling elegan dalam sistem saraf manusia. Sebuah fenomena psikologis yang sering kita rasakan, tapi mungkin jarang kita pahami secara ilmiah.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Secara historis, manusia adalah makhluk pembuat alat, atau Homo faber. Nenek moyang kita menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk menajamkan batu, menenun pakaian, atau mengukir kayu. Aktivitas lambat dan berulang ini bukan sekadar cara untuk bertahan hidup. Bagi mereka, ritme dari tangan yang bekerja memberikan semacam ketenangan yang meditatif.
Sekarang, bandingkan dengan kondisi otak kita hari ini. Otak modern kita secara konstan dibombardir oleh informasi. Saat kita sedang diam dan tidak melakukan tugas yang fokus, sebuah jaringan di otak yang bernama Default Mode Network (DMN) akan otomatis menyala. Jaringan inilah yang bertanggung jawab atas lamunan kita. Masalahnya, bagi kebanyakan dari kita, DMN adalah tempat nongkrongnya si kritikus batin. Di sinilah overthinking terjadi. Kita mencemaskan masa depan, menyesali masa lalu, dan meragukan diri sendiri.
Untuk mematikan suara bising dari DMN ini, kita butuh distraksi. Seringnya, kita memilih jalan pintas: menggulir layar media sosial. Media sosial memberikan lonjakan dopamin murahan yang instan. Tapi anehnya, setelah dua jam menatap layar, alih-alih merasa segar, kita malah merasa kosong dan kelelahan.
Di sinilah sebuah pertanyaan besar muncul. Jika otak kita sangat menyukai imbalan instan seperti yang diberikan oleh media sosial, mengapa merangkai puzzle seribu keping yang lambat dan bikin frustrasi pada akhirnya terasa jauh lebih memuaskan?
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kita ketika kita sedang benar-benar tenggelam dalam sebuah karya seni, tulisan, atau kerajinan tangan, sampai-sampai kita lupa makan dan lupa akan eksistensi diri kita sendiri?
Jika dopamin adalah tentang pencarian hadiah yang serba cepat, lalu senyawa kimia apa yang memeluk otak kita ketika kita melakukan sesuatu yang lambat? Mengapa saat kita melakukan aktivitas kreatif yang mengalir, semua rasa cemas dan overthinking itu tiba-tiba mati total? Jawabannya akan mengubah cara teman-teman memandang hobi dan waktu luang.
Rahasia dari pengalaman magis ini disebut dengan flow state (kondisi mengalir). Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang psikolog bernama Mihaly Csikszentmihalyi. Menurutnya, flow adalah kondisi di mana kita begitu terlibat dalam suatu aktivitas, sehingga hal-hal lain seolah tidak ada artinya.
Tapi mari kita bedah hard science di baliknya. Ketika kita memasuki flow state melalui aktivitas kreatif yang lambat, otak kita sebenarnya sedang melakukan trik neurobiologis yang menakjubkan bernama transient hypofrontality.
Mari kita pecah istilah tersebut. Transient berarti sementara, hypo berarti lambat atau kurang, dan frontality merujuk pada korteks prefrontal. Korteks prefrontal adalah bagian otak di belakang dahi kita yang mengatur pemikiran logis, evaluasi diri, dan rasa takut akan kegagalan. Ya, ini adalah rumah bagi si kritikus batin tadi. Saat kita masuk ke dalam flow, bagian otak ini secara harfiah dinonaktifkan sementara. Itulah sebabnya mengapa dalam kondisi flow, ego kita lenyap. Kita tidak lagi menilai apakah karya kita ini jelek atau bagus. Kita hanya sekadar "menjadi".
Bukan hanya itu. Flow state tidak hanya memberikan kita dopamin. Aktivitas kreatif yang menuntut fokus secara perlahan ini memicu otak untuk melepaskan racikan koktail kimiawi yang sangat kuat. Kita mendapatkan norepinefrin (untuk fokus tajam), dopamin (untuk rasa penasaran dan pengenalan pola), endorfin (sebagai pereda nyeri alami), serotonin (untuk rasa damai setelah selesai), dan yang paling langka: anandamide. Anandamide sering disebut sebagai "molekul kebahagiaan" (bliss molecule), yang mendorong pemikiran lateral dan membuat kita merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Inilah perbedaan utamanya. Menggulir layar ponsel hanya membajak sistem dopamin kita secara sepihak. Sementara itu, aktivitas kreatif yang lambat memberi penghargaan pada otak melalui fokus yang disengaja. Tantangan dari aktivitas tersebut (seperti melukis detail kecil atau mencari kata yang pas saat menulis) dan keterampilan yang kita miliki berada pada keseimbangan yang sempurna. Otak kita merasa "diperkerjakan" dengan sangat layak.
Jadi teman-teman, sains telah membuktikan bahwa hobi lambat yang sering kita anggap tidak produktif itu sebenarnya adalah sebuah kebutuhan biologis. Di dunia yang terus berteriak menuntut kecepatan, melambat bukanlah sebuah kekalahan. Ia adalah bentuk perlawanan yang indah.
Ketika kita menyeduh kopi dengan metode manual, merajut syal yang entah kapan selesainya, atau memoles kayu hingga halus, kita tidak sedang membuang-buang waktu. Kita sedang merawat saraf-saraf di kepala kita. Kita sedang mematikan sakelar kecemasan di korteks prefrontal kita, dan membiarkan diri kita tenggelam dalam lautan kimiawi otak yang menyembuhkan.
Mulai sekarang, jangan pernah merasa bersalah jika kita ingin menghabiskan waktu berjam-jam untuk sebuah aktivitas kreatif yang lambat dan tanpa tujuan komersial. Biarkan diri kita terhanyut. Biarkan waktu menguap. Karena terkadang, cara terbaik untuk menemukan kembali diri kita adalah dengan melupakannya sejenak dalam sebuah karya.